Jumat, 14 Februari 2014

Kisah Nabi Adam dan Siti Hawa

Setelah Allah SWT. menciptakan  bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh - tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya,mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Kekhawatiran Para Malaikat.

Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu,disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari. Berkata mereka kepada Allah s.w.t.: "Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu,nescaya akan bertengkar satu dengan lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya,sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."
Allah berfirman, menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:
"Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya."
Add caption
Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t.dari segumpal tanah liat,kering dan lumpur hitam yang berbentuk.Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna

.

Iblis Membangkang.

Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya.Iblis merasa dirinya lebih mulia,lebih utama dan lebih agung dari Adam,karena ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan lumpur.Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain,walaupun diperintah oleh Allah.
Tuhan bertanya kepada Iblis:"Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?"
Iblis menjawab:"Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur."
Karena kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan,maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.
Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat.Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan,tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu,bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam,sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat,dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang,menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.
Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
"Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka.Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah."

Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.

Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi,maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta,kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya:"Cubalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu,jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam."
Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata:"Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana."
Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah kepada mereka:"Bukankah Aku telah katakan padamu bahawa Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan."

Adam Menghuni Syurga.

Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya,menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga,ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh malaikat:"Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?"
Berkatalah Adam:"Seorang perempuan."Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya."Siapa namanya?"tanya malaikat lagi."Hawa",jawab Adam."Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?",tanya malaikat lagi.
Adam menjawab:"Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah."
Allah berpesan kepada Adam:"Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini."

Iblis Mulai Beraksi.

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh allah dari Syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgahsana kebesarannya.Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.
Ia menyatakan kepada mereka bahawa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka.Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahawa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka.Ia membisikan kepada mereka bahwa.larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal.Diulang-ulangilah bujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lazat rasanya.Sehingga pada akhirnya termakanlah bujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan dilanggarlah larangan Tuhan.
Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud: "Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata."
Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sedarlah ia bahawa mereka telah terlanggar perintah Allah dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar.Seraya menyesal berkatalah mereka:"Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis.Ampunilah dosa kami karena nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami."

Senin, 10 Februari 2014

ARTIKEL TENTANG HAJI


Ibadah Haji Dan Qurban: Menyingkap Rahasia Aajaran Nabi Ibrahim A.S.

oleh: Rusia



Menjelang akhir bulan Dzulqa’dah dan selama beberapa hari di bulan Zulhijjah, setiap tahunnya jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tanah suci untuk menunaikan rangkaian ibadah haji dengan niat dan tujuan yang sama yaitu untuk memenuhi panggilan Allah s.w.t. untuk mengunjungi rumah-Nya yang suci dan disucikan. Para jama’ah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia ini adalah sebagian ummat Islam yang dengan izin Allah SWT mampu memenuhi panggilan-Nya yang diserukan melalui lisan Nabi Ibrahim a.s. sebagaimana tersurat dalam Surat Al-Hajj ayat 27:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Q.S. al-Hajj [22]: 27)
Rangkaian ayat al-Qur’an pada surat al-Baqarah ayat 196 hingga 203 juga menunjukkan penekanan terhadap perintah beribadah haji. Allah S.W.T. dalam rangkaian ayat ini memerintahkan umat Islam menyempurnakan haji dan umrah dengan melaksanakan manasik dalam bentuk paling sempurna untuk mencapai ridha Allah S.W.T. Dijelaskan pula di dalamnya rangkaian bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan dan bolehnya mencari rizki selama melaksanakan ibadah haji maupun umrah.[2]

Sebagian besar umat Islam yang lain, yang tidak berhaji di tanah suci Mekkah al-Mukarromah, mendapat kesempatan untuk melaksanakan rangkaian ibadah lainnya, yaitu ibadah qurban, dengan menyembelih binatang ternak dan mentasharruf-kannya kepada orang-orang miskin di sekitar. Perintah ini antara lain termaktub dalam firman-Nya pada surat al-Kautsar:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)

“1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. 2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. 3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.” (Q.S. al-Kautsar [108]: 1-3)
Ibadah haji saat ini merupakan ibadah yang membutuhkan pengorbanan sangat besar baik dari segi harta yang dipersiapkan maupun fisik untuk melaksanakannya. Implikasinya, belum semua umat Islam mampu menjalankannya. Ibadah qurban pun membutuhkan pengorbanan meskipun jumlahnya tidak sebesar ibadah haji, sehingga sebagian besar masyarakat mampu melaksanakannya. Berdasarkan latar belakang di atas, tulisan singkat ini dimaksudkan untuk melihat ibdah haji dan qurban sebagai napak tilas ajaran Nabi Ibrahim a.s. berabad lalu, sekaligus menyingkap makna di baliknya untuk dapat diresapi hikmahnya bagi kehidupan saat ini.
Teladan Nabi Ibrahim a.s. dalam Ibadah Haji dan Qurban
Ibadah haji yang setiap tahun dilaksanakan kaum muslim di tanah suci merupakan napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim a.s., beserta putranya Nabi Ismail a.s. Meskipun tidak semua umat Islam berkesempatan menunaikan ibadah haji, sebagai salah satu rukun Islam, bukan berarti tidak bisa meneladani dan mengambil hikmah di balik ibadah tersebut. Di seluruh penjuru dunia, umat Islam dengan berbagai latar belakang bangsa dan negara, tetap dapat menghayati perjuangan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., sebagai bentuk penghambaan dan pengabdian yang tulus kepada Allah.

Nabi Ibrahim a.s. dalam lintas sejarah perjuangannya mendapatkan ujian dari Allah berupa belum diberikannya keturunan setelah bertahun-tahun menikah dengan Sarah. Nabi Ibrahim a.s. pun mengalami kegalauan dalam hati yang antara lain tercermin dalam doa dipanjatkannya ke Hadirat Allah S.W.T. sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an Surat al-Shaffat [37]: 100, sebagai berikut.

   رَبِّ هَبْلِ مِنَ الصَّالِحِيْنَ (١٠٠)

Artinya: Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.
Doa ini kemudian diijabahkan oleh Allah, dengan lahirnya seorang putra, yaitu Nabi Ismail a.s. melalui Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim a.s., sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an Surat al-Shaffat [37]: 101.

  فَبَشِّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيْمٍ (١٠١)

Artinya: Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” Kelahiran seorang putra, kemudian diiringi cobaan lain dari Allah S.W.T. bagi Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya. Ismail a.s. yang lahir dari istri kedua menimbulkan kecemburuan pada diri Sarah, sang istri. Akhirnya, atas dasar perintah Allah S.W.T., Nabi Ibrahim a.s. membawa sang anak dan ibunya untuk kemudian meninggalkan mereka di sebuah padang tandus yang disana berdiri rumah Allah, yaitu tempat yang kemudian menjadi kota Mekkah al-Mukarromah. Seorang ibu dan anaknya yang masih kecil, telah mendapat ujian berat dengan hidup di padang gersang sebagai bagian dari keyakinan akan perintah Allah S.W.T.
Cobaan yang diberikan Allah S.W.T. bagi Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya kembali datang melalui sebuah perintah yang sangat berat, yaitu menyembelih sang putra, padahal usianya masih muda. Sang putra pun menunjukkan tingkat keimanan yang tinggi sehingga mengikhlaskan dirinya untuk memenuhi perintah Allah S.W.T. melalui mimpi Ayahandanya. Hal ini antara lain terekam dalam firman Allah S.W.T.
dalam Surat al-Shaffat [37]: 102,

\Artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Kesabaran Nabi Ibrahim a.s. dan istrinya Hajar yang merelakan anaknya menjadi korban dan juga kepatuhan yang ditunjukkan Ismail sebagai wujud ketundukannya kepada perintah Allah S.W.T. merupakan pelajaran utama di dalam kisah yang diabadikan al-Qur’an ini. Al-Qur’an seolah mengingatkan seluruh manusia bahwa tidak ada pertimbangan lain yang dapat menawar jika Allah S.W.T. telah memberi perintah, bahkan jika pun perintah tersebut diberikan pada seorang nabi
Hati Nabi Ibrahim a.s. sebagai seorang ayah tentulah terasa pedih saat mengorbankan anaknya. Namun di balik hal tersebut, terbesit keyakinan bahwa apa yang diperintahkan Allah S.W.T. merupakan ujian dan pasti akan berakhir pada kebaikan dan kebahagiaan. Al-Qur’an surat al-Shaffaat ayat 103 sampai 109 menggambarkan kondisi tersebut sebagai berikut:

Artinya: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim,  sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.  Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.  (Yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.
Rangkaian cobaan yang diterima Nabi Ibrahim a.s. dan keluarga inilah yang kemudian diabadikan dalam ritual ibadah haji dan juga ibadah qurban di bulan Dzulhijjah. Allah S.W.T. melalui kisah Nabi Ibrahim a.s. memberikan hikmah yang luar biasa besar bagi kita Ummat Islam di dunia saat ini melalui gambaran pengorbanan penuh makna. Umat Islam saat ini dengan demikian harus mampu meneladani Nabi Ibrahim a.s. dan keluarga dalam perjuangan mencapai derajat takwa kepada Allah yang senantiasa berupa proses panjang dan membutuhkan pengorbanan.
Cobaan yang diberikan Allah S.W.T. sebagaimana tergambar dalam kisah Nabi Ibrahim a.s. dan keluarga pada dasarnya tidak hanya tertuju pada pribadi seorang saja, tetapi juga pada anak dan istri atau keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Islam memandang pentingnya membangun kekuatan keluarga dalam membangun umat. Tak mengherankan jika Allah s.w.t. memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjaga dirinya dan juga keluarganya dari siksa api neraka sebagaimana termaktub dalam Surat al-Tahrim ayat 6:

يٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ …

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.

Makna Ibadah Haji dan Qurban Bagi Kehidupan Pribadi dan Sosial
Ibadah haji memiliki manfaat yang bersifat personal (syakhsiyah) dan juga sosial (jama’iyah).[3] Manfaat personal dari ibadah haji antara lain adalah pertama dengan ibadah ini dosa-dosa kecil diampunkan dan jiwa akan dibersihkan dari kotoran maksiat. Bahkan dalam pandangan sejumlah ulama dari Hanafiyah menyebutkan bahwa ibadah haji juga menghapus dosa besar.
Dalam kaitannya dengan hal ini, Nabi s.a.w. bersabda yang artinya: “Barang siapa berhaji, lalu tidak melakukan perbuatan rafats (perkataan kotor) dan fusuq (maksiat), maka gugur semua dosanya sebagaimana hari ia dilahirkan oleh ibunya.”[4] Dalam hadits lain, Nabi s.a.w. juga bersabda yang artinya: “Para jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka meminta kepada-Nya, maka Ia akan ijabahkan, jika mereka meminta ampunan kepada-Nya, maka Ia akan memberikan ampunan.”[5] Juga hadits yang artinya: “Orang yang berhaji diampuni dosanya, demikian juga orang yang dimintakan ampun olehnya.”[6]
Manfaat kedua adalah ibadah haji mensucikan jiwa dan menyiapkannya untuk ikhlas yang menjadi dasar bagi perbaikan hidup, mengangkat makna hidup sebagai manusia, meneguhkan cita-cita, dan memperbaiki prasangka kepada Allah. Ketiga ibadah haji juga menguatkan iman, membantu meningat kembali janji dengan Allah dan tobat yang sempurna, menyiapkan jiwa, dan mempertajam perasaan. Keempat, ibadah haji juga mengingatkan para mukmin akan Islam di masa awal, perjuangan Nabi s.a.w. dan para sahabat serta salafush shalih dalam menyiarkan ajaran ilahi dengan amalan shalih.
Kelima ibadah haji melatih kesabaran dalam diri jamaah juga melatih disiplin dan pengorbanan dalam meraih ridha Allah. Keenam, ibadah haji juga merupakan perwujudan dari syukur atas nikmat yang diberikan Allah s.w.t., baik berupa nikmat harta, nikmat kesehatan, sekaligus menghidupkan ruh ibadah yang sempurna dan ketaatan yang tulus pada syariat Allah.
Adapun secara sosial, ibadah haji memiliki manfaat sebagai pertama media ta’aruf (saling mengenal) antara umat Islam dari seluruh penjuru dunia, terlepas dari latar belakang suku bangsa, strata sosial, maupun kedudukan dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah haji dengan demikian menjadi miniatur masyarakat muslim seluruh dunia yang demikian beragam warna kulit, bahasa, dan budayanya.
Kedua, ibadah haji menjadi media penguat hubungan persaudaraan antara umat Islam di seluruh dunia. Hubungan persaudaraan inilah yang kemudian menjadi penyangga harmoni hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, karena pada dasarnya tidak ada perbedaan antara seseorang berdasarkan warna kulit atau suku bangsanya, tidak kelebihan bagi satu bangsa atas bangsa lain, kecuali dengan takwa. Kesadaran akan persaudaraan ini yang nantinya diharapkan menjadi fondasi bagi kehidupan selepas menunaikan ibadah haji.
Ketiga, ibadah haji juga merupakan media dakwah yang efektif bagi pengembangan Islam. Di masa Nabi Muhammad s.a.w., ibadah haji telah menjadi sarana menyebarkan Islam melalui perjumpaan dengan utusan-utusan masyarakat di luar Mekkah yang melaksanakan ritual ibadah haji di tanah suci. Saat ini, nilai dakwah itu juga makin terasa seiring makin mudahnya masyarakat dunia ikut menyaksikan aktivitas umat Islam selama rangkaian ibadah berlangsung.
Sedangkan ibadah qurban yang disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriah memiliki hikmah sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah s.w.t. atas nikmat yang beragam bentuknya dan nikmat atas kondisi kehidupan yang telah dan tetap diberikan dari tahun ke tahun. Selain itu, ibadah qurban juga dimaksudkan untuk menghapus dosa-dosa yang timbul karena kurang sempurnanya menjalankan perintah, sekaligus memberikan bantuan kepada keluarga atau masyarakat yang menerima hewan qurban.[7]
Disembelihnya hewan qurban merupakan perwujudan dari pengakuan atas keburukan nafsu binatang yang seharusnya selalu dilawan oleh setiap manusia. Pemberian dagingnya untuk keluarga yang membutuhkan merupakan bentuk dari peran sosial ibadah ini dalam meringankan dan membahagiakan kehidupan masyarakat yang kurang beruntung dalam hidupnya.
Ibadah haji dan qurban dengan demikian merupakan ibadah yang dengan melaksanakannya umat Islam diharapkan mampu meneladani Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya dalam menjalankan perintah Allah S.W.T. Keluarga teladan ini, dalam Al Qur’an digambarkan memiliki keikhlasan dalam melaksanakan perintah Allah s.w.t. betatapun beratnya perintah tersebut. Keikhlasan ini kemudian diikuti dengan keyakinan yang mendalam bahwa perintah Allah S.W.t. senantiasa diikuti dengan hikmah sehingga perintah tersebut dilaksanakan dengan penuh kesabaran.
Keteladanan terhadap keluarga Nabi Ibrahim a.s. ini selanjutnya membawa umat Islam pada kesadaran untuk memenuhi pelaksanaan ibadah haji dan qurban sebagai ibadah yang tidak saja bersifat personal sebagai hamba kepada Allah S.W.T., tetapi juga merupakan ibadah yang berdimensi sosial. Dengan menjalankan ibadah haji dan qurban, seorang hamba hendaknya menyadari bahwa takwalah yang menjadi ukuran kemuliaan seseorang, bukan harta yang dikumpulkan bukan pula kelebihan fisik maupun anugerah Allah S.W.T.. lainnya.[]

Refrensi kita,
Al Qur’an dan Hadits
Muhammad Ali Ash-Shabuni, 1999, Rawa’ul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam minal Quran, Jakarta: Darul Kutub Islamiyah.
Wahbah Az-Zuhaily, 1985, Al-Fiqh Al-Islamy wa Adilatuhu, Damaskus: Darul Fikr li An-Nasyr wa At-Tauzi’.

[1] Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia.
[2] Muhammad Ali Ash-Shabuni, 1999, Rawa’ul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam minal Quran, Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, Juz 1, hlm. 223-224.
[3] Wahbah Az-Zuhaily, 1985, Al-Fiqh Al-Islamy wa Adilatuhu, Damaskus: Darul Fikr li An-Nasyr wa At-Tauzi’, Juz 3, hlm. 11-13.
[4] Diriwayatkan dari Abu Hurairah oleh Bukhari, Muslim, An-Nasai, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi menggunakan lafadz yang artinya “diampuni dosanya yang telah lalu.”
[5] Diriwayatkan dari Abu Hurairah oleh An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaiman dan Ibnu Hibban. Ibnu Khuzaiman dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam shahih mereka dengan menggunakan lafadz yang artinya “tamu Allah itu ada tiga: orang yang berhaji, orang yang umrah, dan orang yang pergi ke medan perang.”
[6] Diriwayatkan oleh Al-Baraz dan Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir dan oleh Ibnu Khuzaiman dan Al-Hakim dalam Shahih. Al-Hakim meriwayatkan dengan menggunakan lafadz yang artinya “Ya Allah ampunilah orang yang berhaji dan orang yang dimintakan ampun olehnya.”