Kebuyaan
Keagamaan Menghadapi Globalisasi
Menurut asal katanya, kata
“globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya universal. Achmad Suparman, menyatakan globalisasi adalah
suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap
individualisasi di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum
memiliki definisi yang mapan, kecuali defini kerja, sehingga bergantung dari
sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandang sebagai suatu proses
sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa
dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan
kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas
geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat.
Globalisasi adalah suatu proses
penyebaran unsur-unsur atau hal-hal baru khususnya yang menyangkut impormasi
secara mendunia melalui dunia cetak dan elektronik. Secara terbatas,
globalisasi terbentuk oleh adanya kemjuan teknologi dibidang komunikasi dunia.
Contohnya, melalui televisi pada siaran warta berita dunia, kita bias melihat
dan meperoleh impormasi dalam waktu yang relative singkat.
Menurut para Ahli, dasa warsa
terakhir abad ke XX ini sedang berproses
memasuki era baru pada abat ke XXI, yaitu era globalisasi. Suatu yang
menjadikan dunia umat manusia karena kemajuan teknologi, komunikasi dan
informasi, menjadi satu-kesatuan, baik dalam bidang ekonomi, kebudayaan ,
pendidikan, pandangan hidup maupun bidang-bidang lainnya. “Global Village” adalah dunia masa depan, dimana seluruh umat
manusia dihuabungakn satu dengan yang lain oleh elektronik media(Mc. Luhan,
1964). Kehidupan manusia dibumi ini seperti satu keluarga atau seperti satu
desa, yang cirri menonjolnya antara lain, saling mengetahui, salaing peduli,
yang kuat mempengaruhi yang lemah, dan serba tarnsparan (Firdaus Syam,1992).
Bagi kaum muslimain Era Globalisasi
ini membawa harapan dan tantang yang cukup kompleks. Disisi lain seperti
dinyatakan para ahli bahwa era baru ini
akan merupakan era kebangkitan agama (Jhon Naisbit dan Patricia Aburdeni, megatrends 2000). Dalam artian
bahwasanya agama akan merupakan Alternatif bagi umat manusia untuk dapat
mempertahankan identitas kemanusiaanya. Idiologi besar sekarang ini, sudah
semakin menampakan kerapuhan dan ketidak
berdayaannya dalam didalam menghadapi dan
memecahkan probelematika kemanusiaan. Komunisme
selama berabad-abad ditakuti oleh umat manusia, kini mulai ditinggalkan,
bahkan dihancurkan oleh penganutnya sendiri. Kaum komunis Rusia dan Eropa
Timur, mulai menampakan ketidak percayayannya terhadap komunisme yang mereka
anut sejak lama. Bahkan Gorbachev pernah
menyatakan bahwa komunis itu ajaran yang membawa tragedy bagi umat manusia.
Demikian individualisme-kapitalisme yang dimotori oleh Amerika Serikat dan
Eropa Barat, mulai menunjukan ketidakberdayaanya dalam mengahadapi masalah-masalah kehidupan
sekarang ini. Kasus “ Demokrasi “ yang semu, kasus perbedaan kulit hitam putih
, yang memyebabkan pertumpahan darah, kasus rusaknya moral anak-anak remaja (4
sampai 10 tahun , anak SMP di Amerika mederita penyaki AIDS), dan sebagainya,
adalah contoh-contoh dari kemandulan system idiologi yang mereka anut.
Bidang Keagamaan
Dewasa ini dalam masyarakat ada kecendrungan
tumabuh berkembang nya budaya Jahiliyah, moderen seperti materialism, sekuler dan permisif. Budaya ini semakin deras
mempengaruhi dan merusak kehidupan masyarakat modern dalam berbagai aspeknya.
Budaya itu mula diambil oleh masyarakat Barat, namun kini ia telah menjalar dan
menjangkiti pula masyarakat lainnya. Kehiduapan yang materialistis dalam
masyarakat modern, tercermin yaitu, adanya ketergantungan pada hal-ahal yang
bersifat materi dan uang. Segala sesuatu
diukur dengan uang semboyan yang cukup popular, “Time is Maney”(waktu adalah Uang) menandakan adanya ketergantungan
itu. Seakan tanpa uang tak akan hidup hanya untuk mengejar-ngejar uang.
Akibatnya meraka tak lagi menghiraukan mana halal dan mana haram dalam mengejar
uang. Sehingga timbulnya perbuatan merusak seperti korupsi, manipulasi,
penyelundupan, penyalahgunaan jabatan, pelacuran dan sebagainya.
Kehidupan sekuler tercermin dalam
masyarakat moderen ini dengan adanya pemisahan agama dalam kehidupan dunia.
Agama dipandang sebagai urusan pribadi dan sebatas kegiatan ritual, moral dan
spiritual. Oleh karenanya agama dijauhkan dari urusan dunia yang menyangku
politik, ekonomi, social, pemerintahan idiolog dan sebagainya. Bahkan agama
tidak boleh dijadikan asas dari organisasi, baik organisasi social, pendidikan
, ekonomi maupun organisasi dakwah itu sendiri.
Kehidupan permisif tercermin, yaitu semakin meninkatnya pergaulan
bebasnya masyarakat yang berwujud: kumpul kebo, hamil sebelum menikah, aborsi
dan sebagainya. Budaya ini telah merusak masyarakat barat sebagaiman yang
terjadi di negara-negara: Amerika Serikat, Inggris, prancis, Belanda, Swedia
dan sebagainya dalam tulisan yang berjudul “Setan Mini Seks Remaja” Misri Singarimbu seorang pakar kependudukan
mengemukakan bahwa di Amerika awal tahun 70-an, remaja yang punya kebiasaan
berhubungan seks (sebelum menikah) rata-rata semakin muda, dibawah 20 tahun.
Dalam hal ini merupakan dampak dari pada globalisasi sangat berpengaruh terhadap pola prilaku masyarakat.
Perkembangan
internet, informasi elektronik dan digital, ditemui dalam kenyataan sering
terlepas dari sistim nilai Kebudaya
dan kegamaan . Perkembangan ini sangat cepat terkesan oleh generasi
muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang.
Suka atau tidak bila tidak disikapi dengan kearifan dan kesadaran pembentengan
umat, pasti akan menampilkan benturan-benturan psikologis dan sosiologis.
Sehubungan dengan itu, perlu dicari strategi yang efektif dalam memecahkan
persoalan tersebut melalui berbagai cara dalam menghadapi “Tantangan Globalisasi Dengan Sebuah Nilai Penanaman Iman”.
Kehidupan yang sekuler tercermin
dalam masyarakat moderen ini dengan adanya pemisahan agama dalam kehidupan
dunia. Agama hanya dipandang sebagai urusan pribadi dan sebatas kegiatan
ritual, moral dan spiritual. Oleh karena itu agama dijauhkan dari segala urusan
dunia yang menyangkut politik, ekonomi,social pemerintahan, idiologi dan
sebagainya. Bahkan agama tidak boleh menjadi asas dari organisasi baik
organisasi social, politik, pendidikan
,ekonomi maupun dakwah agama itu sendiri.
Para ahli dan Ilmuan telah
bersepakat untuk menjadikan agama
sebagai rujukan dalam pembangunan dunia ini. Agama(terutama Islam) diharapkan
mampu menjawab secara tegas dan tuntas persoalan-persoalan yang dihadapi umat
manusia dalam zaman sekarang ini, apakah persoalan pribadi, persoalan keluarga,
maupun persoalan masyarakat secara keseluruhan.
Seperti Firman Allah Surat
Al-Baqorah: 130
Artinya:
Dan
tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh
dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya
dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh.
Maksutnya dari ayat diatas adalah (Dan siapakah) maksudnya tidak
ada orang (yang benci pada agama Ibrahim) lalu meninggalkannya (kecuali orang
yang memperbodoh dirinya sendiri) artinya tidak mengerti bahwa ia makhluk Allah
dan harus mengabdikan diri kepada-Nya atau yang dimaksud, mencelakakan dan
menghinakan dirinya sendiri (dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia)
sebagai seorang rasul dan seorang khalil, artinya 'sebagai seorang sahabat',
(dan sesungguhnya di akhirat dia benar-benar termasuk orang-orang yang saleh)
yang mempunyai kedudukan tinggi
Globalisasi disamping membawa harapan,
juga membawa tantangan yang cukup komleks bagi kaum muslimin( Salahuddin
Sanusi) antara lain sebagai berikut:
a. Globalisasi pandangan-pandangan
hidup non-Islam menjadi satu kesatuan
ideology sekuleris, yang memushi Islam, dan Umatnya. Yahudi, Nasrani dan
agama-agama lainnya bersatu padu dalam menghadapi umat Islam. Mereka
mengarahkan dana, sumber daya manusia, dan sarana lain secara maksimal untuk
memurtadkan kaum muslimin (terutama angkatan mudanya) yang asing terhadap
ajaran Islam. Benar apa yang difiramankan Allah surat Al-Baqorah ayat 109 dan
ayat 120.
Artinya: “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan
kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari
diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan
biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(Al-Baqorah ayat 109)
Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga
kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah
itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti
kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi
menjadi pelindung dan penolong bagimu”(Al-Baqorah Ayat 120)
b. Globalisasi Kultur yang menyebakan
melandanya sikap serba materialis. Segala persolan hanya dilihat untung ruginya
secara material belaka. Keberhasilan pembangunan hanya dilhat dari jumlah
jalan, jumlah pabrik, jumlah jembatan, dan lain-lain tanpa memperhatikan secara
selektif, apakah pembangunan itu menggusur rakyat kecil atau uang yang
dihasilkan dari judi yang sangat merugi itu, atau factor-faktor non-materi
lainya.
c.
Kemajuan
yang sangat pesat dibidang teknologi dan inpormasi dapat menyebabkan terjadinya
perubahan social secara cepat pula. Negara super
power yang kuat teknologi dan inpormasinya akan selalu berada pada posisi
yang diuntungkan . Sebaliknya negara
yang kurang maju akan selalu mengangap baik (jika tidak mempunyai Agama yang
kuat) Negara-negara yang kuat tersebut. Bukan saja hanya produk teknologi
Negara maju yang melanda dunia ketiga, akan tetapi juga prilaku dan
kebudayaanya. Kecendrungan untuk meniru prilaku bangsa maju tanpa seleksi,
sering menguat pada bangsa-bangsa dunia ketiga.
Sedangkan keagamaan atau nilai agama
adalah suatu totalitas kehidupan yang sakral, mendalam, dalam memadu serta menentukan
arah kehidupan. Situasi perubahan Sosial masyarakat saat ini agaknya secara
subtensial mengurangi sebagai factor dalam pengendalian diri sebagian
pemeluknya, kendati sebagian lain muncul gejala kesemarakan agama. Hidup saat
ini syarat dengan pertarungan yang bersifat pragmatis dan serba inderawi.
Setiap orang saling berpacu mengejar prestasi dan kehiduapan tinggi dalam
kehidupan moderen.
Sebagai
akibat dari modernisasi dan Industrilisasi adalah munculnya masyarakat moderen
atau masyarakat masyarakat industrial. Masyarakat modern mempunyai pandangan
dunia (world view) yang bertolak dari suatu anggapan tentang kekuasaan
manusia(antroposentrisme), yaitu bahwa manusia merupakan pusat kehidupan. Dalam
pandangan ini, manusia mempunyai kekusaan untuk menentukan kehiduapannya
sendiri. Paham tentang kekuasaan manusia atau antroposentrisme ini melahirkan
pandangan kemanusiaan sekuler (humanisme sekuler) yang menekan rasionalitas
(kekuasaan akal-pikiran), individualitas (kekuasaan diri pribadi), , materialitas
(kekuasaan harta benda), dan relativitas(kekusaan nilai kenisbian).
Masyarakat
modern sering juga disebut sebagai manusia tekno-struktur sangat terikat dengan
stuktur-stuktur kehidupan yang teknologis. Manusia dalam hal ini , menjadi
otomatom kehidupan, yang percaya pada kemampuan diri namun sangat tergantung
dari namun sangat tergantung pada benda yang diciptakannya sendiri.
Dalam
hal itu, tidak ada tempat dalam masyarakat
industrial modern bagi sesuatu yang bersifat immateri atau rohani, karena apa
yang disebut dengan immateri dan rohani merupakan hasil dari sesuatu yang
bersifat materi dan bendawi. Manusia dan masyarakat dan masyarakat mengalami pergersangan dan bahkan
kekosongan nilai spritualitas. Sebagai akibat manusia bersaing satu sama lain
untuk merebut prestasi setinggi-tingginya dalam bidang materiil, tanpa
memperhatikan nilai etika dan moralitas.
Kita
menyaksikan dewasa ini dampak negative dari globalisasi yaitu berkembangnya beberapa
kecendrungan hidup, seperti kecendrungan materialistic (pendewaan terhadap
materi), kecenderungan individualistic (pendewaan terhadap diri), dan
kecendrungan hedonistic (pendewaan terhadap hasrat badani).[12]
Kecendungan-kecenderungan-kecenderungan
tersebut sedikit banyak sedikit banyak sudah menggejala dalam kehidupan
sebagian masyarakat Indonesia terutama di kota-kota besar. Ke tiga
kecenderungan tadi merupakan tantangan umat beragama. Pertama karena perkembangannya , kecenderuangan-kecenderungan
tersebut menunjukan adanya pertentangan atau penolakan terhadap nilai luhur
agama.
Kedua, kecenderungan-kecenderunagn
dapat menjalar denagn mudah dan cepat dikalangan masyarakat luas, yang apabila
tidak dibatasi dapat menghambat proses, pembangunan masyarakat luas , yang apabila dibatasi dapat menghambat
proses pembangunan masyarakat keagamaan
2.
Kebudayaan
dalam Globalisasi
Semula
dampak globalisasi hanya diraskan dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya
dan Medan. Namun, kebersmaan terhadap proses
pembangunan, arus globalisasi sudah menyebar keseluruh pelosok tanah
air, bahkan sampai pada desa-desa terpencil sekalipun.
Mengingat
arus globalisasi itu sedemikian cepat dan luas penyebarannya, dampaknyapun
semakin terasa. Dampak tersebut ada yang positif dan negative.
a.
Dampak
positif Globalisasi
1) Dibidang
Ilmu pengetahuan dan teknologi, melalui sarana komunikasi seperti radio,
televisi, film, dan sarana elektronik lainya, globalisasi dapat mempercepat keberhasilan
pembangunan.
2) Dibidang
sumberdaya manusianya, globalisasi menumbuhkan kinerja yang berwawasan luas dan
ber-etos kerja tinggi.
3) Dibidang
social budaya, globalisasi dapat menumbuhkan dinamika yang terbuka dan tanggap
terhadap unsure-unsur pembaharuan.
b.
Dampak Negatif
Globalisasi
1) Goncangan
budaya atau cultural Shock.
Menurut Soeryono
Soekanto, goncangan budaya terjadi apabila
warga masyarakat mengalami
disorientasi dan frustrasi. Hal ini berlangsung apabila ada angota yang tidak
siap menerima kenyataan perubahan-perubahan akibat globalisasi.
Contohnya, masyarakat
kota besar di Indonesia yang “tergusur” oleh pembangunan. Setelah mereka
menerima “ ganti rugi”, mereka menetap didaerah pinggiran. Karena tidak dapat
mengimvestasi tasikan uangnya dengan baik, akhirnya mereka bangkrut dan menggur
total. Dalam keadaan frustasi menghadapi berat tantang hidup, mustahil mereka
melakukan penyimpangan social, seperti kriminalitas dan prostitusi.
2) Ketimpangan
budaya
Ketimapangan budaya
adalah suatu bahwa masuknya unsur-unsur globalisasi tidak terjadi secara serempak. Unsur-unsur
yang terkait dengan teknologi masuk sedemikian cepatnya sedangkan unsure-unsur
social budaya, katakanlah dibidang pendidikan, sedemikian lambatnya Dipihak
lain, ada sekelompok masyarakat yang begitu cepat menyerap dan menerima
unsur-unsur globalisasi tersebut. Akiabat situasi tersebu,
perubahan unsure-unsur social budaya
yangterjadi dimasyarakat juga tidak terjadi secara serempak. Ketidakserempakkan
ini yang kita kenal dengan istilah ketimpangan budaya(culture lag).
3) Pergeseran
Nilai-nilai Budaya yang Menimbulkan Anomie
Masuknya usnsur-unsur
globalisasi yang gencar dalam waktu relative singkat akan menyebabkan
terjadinya berbagai perubahan social budaya, secara susul- menyusul. Sementara
itu, system nilai dan norma yang ada dalam kehidupan masyarakat tidak siap
mengantisipasi terjadinaya
peruabahan-peruabahan itu. Akibatnya masyarakat menjadi kebingungan (anomie).
Nilai dan norma social budaya mana yang paling cocok untuk mengantisifasi arus
globalisasi yang sedang berlangsung.
Kelompok yang paling kebinggungan adalah kelompok yang secara social belum
memiliki identitas yang manta, keleompok masyarakat lainnya adalah mereka yang
secara tiba-tiba “ ketiaban reseki nomplok” menjadi Orang Kaya Baru, karena
berbagai “keberuntungan”.[13]
Contoh akiabat adanya
anomie, yaitu:
· Pergaulan
bebas, kenalan remaja, dan penyalahgunaan narkotika yang melanda para remaja.
· “
aji mumpung” dan “konsumenrisme” dikalangan orang kaya baru.
3.
Strategi
Kebudayaan
Untuk
menghapi fenomena diatas dibutuhkan adanya strategi kebudayaan, yakni kerangka praktis yang
melibatkan unsure-unsur kebudayaan (culture universals) social, ekonami, plitik, iptek, seni
dan agama untuk mewujutkan cita-cita
social sesuatu masyarakat .
Jika
cita-cita social diletakan dalam konteks agama maka masyarakat ideal yang ingin
mewujudkan dengan strategi kebudayaan adalah masyarakat agama atau masyarakat
keagamaan. Karena tujuan bersifat keagamaan maka pendekatan strategi kebudayaan
yang akan diterapkan harus pula bersifat keagamaan, atau berdasarkan
nilai-nilai agama.
Firman
Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Haj ,yang artinaya:
Dan berjihadlah kamu
pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan
Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.
(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang
muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu
menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap
manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada
tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan
sebaik-baik Penolong.
Strategi
kebudayaan perlu bertolak dari suatu teori nilai, meminjam istilah Sultan Takdir Alisyahbana, yaitu teori yang menentukan motivasi, tujuan,
dan cara maupun logika manusia untuk mengembangkan dirinya dalam hidup
berbudaya.
Menurut
Takdir, terdapat enam nilai strategis (berdasarkana gama)yang harus
dikembangkan dalam pembangaunan kebudayaan nasional Indonesia, kenam nilai
tersebut ialah: (1) Nilai Agama, (2) Nilai Ekonomi, (3) Nilai ilmu,(4) Nilai
Keindahan,(5) Nilai Solidaritas, dan (6) Nilai Kuasa atau politik.[14]
Nilai
agama merupakan nilai dasar yang berfungsi mendorong manusia atau masyarakat
untuk memahami hubungan dengan tuhan dan alam semesta. Penghayatan tentang
nillai ini akan memberikan makna bagi masyarakat dalam kebudayaanya.
Nilai
ekonomi merupakan nilai dasar kedua dibawah nilai agama. Nilai ekonomi adalah
nilai dasar, bahkan menurut Sutan Takdir, terdasar dalam kebudayaan masyarakat,
karna jika nilai ini tidak terpenuhi maka masyarakat tidak bisa hidup untuk
membangun kebudayaan. Nilai ekonomi akan membadalah nilai pembawaan manusia
untuk menciptakan kegunaanalam sekitar sesuai hokum dan norma alam itu sendiri.
Nilai
berfungsi untuk menyelidiki dan mengetehui hukum alam yang tidak lain adalah
hukum Tuhan itu sendiri. Pengetahuan akan hokum alam mengakibatkan penguasaan
atas ilmu pengetahuan dan teknologi akan membawa kemungkinan dan kemudahan bagi
manusia untuk menjalankan kehidupan dan membangun kebudayaan.
Sebagai
nilai keempat adalah nilai keindahan. Nilai ini bias juga disebut nilai seni,
berfungsi untuk mendatangkan bagi manusia. Nilai ini untuk mempersatukan
(masyarakat) dalam membina kehidupan bersama dalam masyarakat. Pada hakekatnya,
manusia berkepentingan untuk bersama dan berkerjasama dalam kehidupan.
Sebagai
konsekwensi dari nilai solidaritas adalah nilai kuasa. Nilai kuasa atau nilai
politik berfungsi untuk mengatur kehidupan bersama tadi. Jika nilai solidaritas
lebih berdimensi horizontal yang membuat manusia saling mengasihi, menyayangi,
dan tolong menolong, maka nilai kuasa berdimensi vertical yaitu mengatur
kehidupan masyarakat yang mungkin melahirkan perebutan kekeuasaan antar
kelompok-kelompok dalam integrasi yang dinamis.
Interelasi
nilai-nilai diatas dapat mencipakan suatu konfigurasi nilai-nilai yang
bermacam-macam, tergantung pada kualitas yang diberikan kepada masing nilai
oleh sebuah masyarakat masih menurut Sutan Takdir, kebudayaan barat yang
menekan nilai ekonomi dan nilai ilmu melahirkan teknologi yang maju. Hal inilah
yang membuat nilai kebudayaan barat bersifat kebudayaan. Kebudayaan ini berkembang atas
dasar rasionalitas. Seabaiknya, kebudayaan Timur yang menekankan nilai agama
dan nilai seni serta berkembang atas dasar perasaan, intuisi dan imajinasi
melahirkan kebudayaan yang ekspresif.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Di zaman
sekarang ini, tak sedikit dari umat Islam yang lemah iman, karena telah salah
kaprah dalam menyikapi isu globalisasi. Mereka seakan-akan kedatangan tamu
istimewa, tamu pujaan hati yang telah lama diagung-agungkan. Sehingga dalam
bayangan mereka, globalisasi adalah segala-galanya dan merupakan puncak dari
modernisasi. Padahal ia sesungguhnya adalah tipu daya dari bangsa Barat belaka
yang sengaja menjerat dan akan menjerumuskan umat Islam. Sesungguhnya
globalisasi tidak jauh beda dengan imprialisme. Penyebaran globalisasi hampir
selalu sejalan dengan penyebaran Neoliberalisme
Globalisasi
dengan konotasi itu merupakan penghambaan dan penjajahan terhadap bangsa-bangsa
di dunia agar tunduk pada prinsip-prinsip barat yang rusak dan menyesatkan umat
baik budaya maupun keagamaan. Globalisasi merupakan program yang bertujuan
untuk mendayagunakan teknologi sebagai alat untuk mengokohkan kedudukan
kepentingan Negara adidaya, memperbudak bangsa-bangsa lemah, menyedot sumber
daya alamnya, meneror rakyatnya, manghambat perjalanannya, memadamkan
kekuatannya, menghapus identitasnya dan mengubur keasliannya, reformasinya
serta pembangunan peradabannya. Dengan kata lain globalisasi merupakan gurita
yang menelikung dan mencekik leher dunia Islam.
Pengaruh
globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif kegamaaan,
kebudayaan bangsa Indonesia. Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan
bengsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi
disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah
menimbulkan isu mengenai globalisasi dari pada akhrnya menimbulkan nilai baru
tentang kesatuan dunia. Radha Krishnan dalam bukunya Eastern Religion and
Western Though (1924) menyatakan “untuk
pertama kalinya dalam sejarah umat manusia,
kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak,
Timur dan Barat telah menyatu dan tidak ada lagi peradaban”. Atau dengan
kata lain kebudayaan asing. Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri
khas kebudayaan kita? Oleh karen itu perlu dipertahankan aspek Keagamaan dan kebudaya
Indonesia sebagai identitas bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan budaya
yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa serta selalu berpagang
teguh terhadap Al-Quraan dan Hadist sebagai umat Islam.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Hafinudin Didin.1990, Dakwah Aktual, Jakarta, Gema Insani
Press.
2.
Dr.M. Din Samsudin.Oktober 2000,Etika Agama Dalam Membangun Masyarakat
Madani,Jakarta,Logos.
3.
Prof.Dr.H. Ahmad Syafii Maarif. Juni
1999, Agama Dan Krisis Kemanusiaan
Modern, Yogyakarta,PP IRM
4.
Muhsin MK.Demsember 1991,Majalah Hukum dan pengetahuan Islam.Jakarta
,Almuslimun.
5.
Yad.Mulyadi. 1999, Antropologi, Jakarta.Depbud.
6.
Jalaluddin
Asy-Syuyuthi.
Juni 2009 Tafsir Jalalain,
Tasikmalaya
[1]
Yad.Mulyadi,Antropologi SMA ,Depbud.Jakarta:1999.hal.92
[2] Ibid,hal 93.
[3] Drs.
K.H. Didin Hafinudin, M.Sc,Dakwah Aktual,Gema
Insani Press.Jakarta:1998.hal.118.
[4]
Prof.Dr.H.Ahmad Syafii Maarif,Agama dan
Krisis Kemanusiaan Moderen. Yogyakarta: Juni 1999.hal 15.
[5]
Muhsin MK,Almuslimun Majalah Hukum dan
pengetahuan Islam.Jakarta: Demsember 1991.hal 84
[6] Ibid hal 84
[7] Ibid hal 84
[8]
Drs.Didin Hafinudin,Dakwah Aktual:Gema
Insani Press. Jakarta:1998.hal.119
[10] Ibid, Didin Hafinudin.hal.120
[11]M.
Din Syamsuddin, Etika Agama dalam
membangun Masyarakat Madani,Logos. Jakarta:2000 hal.170
[12] Ibid,hal. 171
[13] Ibid, Yad Mulyadi.hal 97-98
[14] Ibid,hal.172
[15]
M. Din Syamsuddin,Ibid.hal.173






Tidak ada komentar:
Posting Komentar