Beranda

Ibadah Haji Dan Qurban: Menyingkap Rahasia Ajaran Nabi Ibrahim A.S

Menjelang akhir bulan Dzulqa’dah dan selama beberapa hari di bulan Zulhijjah, setiap tahunnya jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tanah suci untuk menunaikan rangkaian ibadah haji dengan niat dan tujuan yang sama yaitu untuk memenuhi panggilan Allah s.w.t. untuk mengunjungi rumah-Nya yang suci dan disucikan. Para jama’ah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia ini adalah sebagian ummat Islam yang dengan izin Allah SWT mampu memenuhi panggilan-Nya yang diserukan melalui lisan Nabi Ibrahim a.s. sebagaimana tersurat dalam Surat Al-Hajj ayat 27:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Q.S. al-Hajj [22]: 27)


Rangkaian ayat al-Qur’an pada surat al-Baqarah ayat 196 hingga 203 juga menunjukkan penekanan terhadap perintah beribadah haji. Allah S.W.T. dalam rangkaian ayat ini memerintahkan umat Islam menyempurnakan haji dan umrah dengan melaksanakan manasik dalam bentuk paling sempurna untuk mencapai ridha Allah S.W.T. Dijelaskan pula di dalamnya rangkaian bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan dan bolehnya mencari rizki selama melaksanakan ibadah haji maupun umrah.[2]
Sebagian besar umat Islam yang lain, yang tidak berhaji di tanah suci Mekkah al-Mukarromah, mendapat kesempatan untuk melaksanakan rangkaian ibadah lainnya, yaitu ibadah qurban, dengan menyembelih binatang ternak dan mentasharruf-kannya kepada orang-orang miskin di sekitar. Perintah ini antara lain termaktub dalam firman-Nya pada surat al-Kautsar:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)

“1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. 2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. 3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.” (Q.S. al-Kautsar [108]: 1-3)
Ibadah haji saat ini merupakan ibadah yang membutuhkan pengorbanan sangat besar baik dari segi harta yang dipersiapkan maupun fisik untuk melaksanakannya. Implikasinya, belum semua umat Islam mampu menjalankannya. Ibadah qurban pun membutuhkan pengorbanan meskipun jumlahnya tidak sebesar ibadah haji, sehingga sebagian besar masyarakat mampu melaksanakannya. Berdasarkan latar belakang di atas, tulisan singkat ini dimaksudkan untuk melihat ibdah haji dan qurban sebagai napak tilas ajaran Nabi Ibrahim a.s. berabad lalu, sekaligus menyingkap makna di baliknya untuk dapat diresapi hikmahnya bagi kehidupan saat ini.
Teladan Nabi Ibrahim a.s. dalam Ibadah Haji dan Qurban
Ibadah haji yang setiap tahun dilaksanakan kaum muslim di tanah suci merupakan napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim a.s., beserta putranya Nabi Ismail a.s. Meskipun tidak semua umat Islam berkesempatan menunaikan ibadah haji, sebagai salah satu rukun Islam, bukan berarti tidak bisa meneladani dan mengambil hikmah di balik ibadah tersebut. Di seluruh penjuru dunia, umat Islam dengan berbagai latar belakang bangsa dan negara, tetap dapat menghayati perjuangan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., sebagai bentuk penghambaan dan pengabdian yang tulus kepada Allah.
Nabi Ibrahim a.s. dalam lintas sejarah perjuangannya mendapatkan ujian dari Allah berupa belum diberikannya keturunan setelah bertahun-tahun menikah dengan Sarah. Nabi Ibrahim a.s. pun mengalami kegalauan dalam hati yang antara lain tercermin dalam doa dipanjatkannya ke Hadirat Allah S.W.T. sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an Surat al-Shaffat [37]: 100, sebagai berikut.

   رَبِّ هَبْلِ مِنَ الصَّالِحِيْنَ (١٠٠)

Artinya: Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.
Doa ini kemudian diijabahkan oleh Allah, dengan lahirnya seorang putra, yaitu Nabi Ismail a.s. melalui Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim a.s., sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an Surat al-Shaffat [37]: 101.

  فَبَشِّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيْمٍ (١٠١)

Artinya: Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” Kelahiran seorang putra, kemudian diiringi cobaan lain dari Allah S.W.T. bagi Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya. Ismail a.s. yang lahir dari istri kedua menimbulkan kecemburuan pada diri Sarah, sang istri. Akhirnya, atas dasar perintah Allah S.W.T., Nabi Ibrahim a.s. membawa sang anak dan ibunya untuk kemudian meninggalkan mereka di sebuah padang tandus yang disana berdiri rumah Allah, yaitu tempat yang kemudian menjadi kota Mekkah al-Mukarromah. Seorang ibu dan anaknya yang masih kecil, telah mendapat ujian berat dengan hidup di padang gersang sebagai bagian dari keyakinan akan perintah Allah S.W.T.
Cobaan yang diberikan Allah S.W.T. bagi Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya kembali datang melalui sebuah perintah yang sangat berat, yaitu menyembelih sang putra, padahal usianya masih muda. Sang putra pun menunjukkan tingkat keimanan yang tinggi sehingga mengikhlaskan dirinya untuk memenuhi perintah Allah S.W.T. melalui mimpi Ayahandanya. Hal ini antara lain terekam dalam firman Allah S.W.T.
dalam Surat al-Shaffat [37]: 102,

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar