kata Ibuku,
Masjid
Taqwa Metro adalah icon Kabupaten Lampung Tengah. Ini berlaku sebelum terjadi
pemekaran wilayah administrasi yang memisahkan Kota Metro dan Kabupaten Lampung
Tengah.
Bangunan
menjadi icon bukanlah hal yang aneh, apalagi bangunan megah seperti masjid
Taqwa Metro ini. Sejak memasuki Metro pada pertengahan tahun 70-an, hingga
“pergi merantau” pada pertengahan tahun 80-an, nama bangunan yang paling
tercetak dalam ingatan adalah Masjid Taqwa Metro.
Masjid
ini mulai didirikan pada tanggal 21 Juli 1967 oleh Masyarakat Islam di
Kabupaten Lampung Tengah. Dinyatakan selesai pada tanggal 23 Mei 1969 dan
diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, K.H. A. Dahlan. Setelah
mengalami renovasi beberapa kali maka pada tanggal 27 Januari 2004 Ketua
Yayasan Dakwah dan Pemeliharaan Masjid Taqwa Metro, H. A. Sajoeti, menyerahkan pemeliharaan pada Pemerintah Kota
Metro.
Masjid
ini digunakan sebagaimana masjid seharusnya, dimana tidak hanya untuk tempat
sholat berjamaah, tetapi juga banyak kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.
Pada hari Idul Fitri atau Idul Adha biasanya juga dipakai untuk lokasi sholat.
Suara adzan dan mengaji sesaat sebelum waktu maghrib tiba dari tahun ke tahun
tidak pernah berubah. Lekat dalam memori.
Mengingat
masa kecil di masjid ini, yang lokasinya tidak seberapa jauh dari rumah, adalah
mengasyikkan. Selain tempat mengenal kemegahan “bangunan islami” yang pertama
kali, juga tempat yang menyenangkan untuk “bermain” terutama saat bulan
Ramadhan.
Saat
hari biasa maka sholat Subuh adalah momen yang menarik. Karena setelah sholat
biasanya dilanjutkan dengan lari pagi keliling lapangan Merdeka yang
bersebelahan dengan masjid. Lapangan ini, saat itu, masih digunakan sebagai
tempat olah raga sepak bola, bola voli, dan atletik.
Tugas
Jumat juga merupakan hal asik lainnya, dimana guru sekolah memerintahkan untuk
membuat ringkasan khotbah berupa tulisan pada buku yang kemudian dimintakan cap
“kantor masjid” sebagai buktinya. Bukan hal gampang meringkas isi khotbah yang
biasanya kalah menariknya dibandingkan “ngobrol dengan teman” atau “tidur dalam
kesejukan” di masjid megah ini.
Megah,
ya, bagi saya ini suatu kemegahan yang dibangun pada akhir 60-an. Susah
membayangkan bahwa kubah besar yang disangga oleh 20 pilar dan dinding khas
busur mediteranian ini dihasilkan saat itu hanya dalam waktu dua tahun. Atau
justru saya tidak perlu heran karena memang pada jaman itu penghormatan pada
“rumah Tuhan” adalah hal yang bisa mengalahkan penghormatan pada “rumah
sendiri”. Sehingga pembangunan dilakukan dengan kesungguhan hati.
Pada
Maret 2013, dari Harian daring Tribun Lampung didapat berita bahwa masjid Taqwa
mengalami rehabilitasi atau pemugaran.
“Rehabilitasi
total Masjid Taqwa Kota Metro hanya menyisakan menara lama. Seluruh bangunan
masjid dirubuhkan, dan kubahnya akan diganti dengan baru yang lebih lebar
menyesuaikan bangunan baru berlantai dua.” (Harian Tribun Lampung, 6 April
2013)
Terbayang
kata rehabilitasi, lha kok “hanya menyisakan menara lama”..?
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, merehabilitasi mempunyai arti: memulihkan
kepada (keadaan) yang dahulu (semula).
Wah,
kalau hanya menyisakan menara, maka keadaan apa yang dikembalikan..? Apakah
yang dimaksud kemudian adalah keadaan sebelum masjid ada yang berupa tanah
lapang..?
Entahlah,
apa maksud sebetulnya dari “rehabilitasi” ini, yang jelas masjid megah itupun,
saat tulisan ini saya buat, sudah rata dengan tanah. Icon itu telah tercerabut
dari akarnya.
Jelas
sekali, pada masa rezim siapa icon ini dihilangkan akan saya catat dalam-dalam
dan tak akan terlupakan. Rezim ini tentunya mempunyai kebijaksanaan hebat dalam
perencanaan “merehabilitasi total” masjid megah ini.
Masjid Takwa(Agung)Tahun 2011
Masjid Takwa .::I Love You Full::.
Tukang Semir Pekerjaan Mulia
Sekolah dengan menyemir
Kota Metro,Lampung
Kota Metro Lampung
2012
keping-keping Masjid Takwa
Arsip 2013
Masjid Takwa 2012





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar