Jumat, 12 Juli 2013

Masjid Takwa Kota Metro Lampung


"Itu Masjid Agung"
kata Ibuku,



Masjid Taqwa Metro adalah icon Kabupaten Lampung Tengah. Ini berlaku sebelum terjadi pemekaran wilayah administrasi yang memisahkan Kota Metro dan Kabupaten Lampung Tengah.


Bangunan menjadi icon bukanlah hal yang aneh, apalagi bangunan megah seperti masjid Taqwa Metro ini. Sejak memasuki Metro pada pertengahan tahun 70-an, hingga “pergi merantau” pada pertengahan tahun 80-an, nama bangunan yang paling tercetak dalam ingatan adalah Masjid Taqwa Metro.

Masjid ini mulai didirikan pada tanggal 21 Juli 1967 oleh Masyarakat Islam di Kabupaten Lampung Tengah. Dinyatakan selesai pada tanggal 23 Mei 1969 dan diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, K.H. A. Dahlan. Setelah mengalami renovasi beberapa kali maka pada tanggal 27 Januari 2004 Ketua Yayasan Dakwah dan Pemeliharaan Masjid Taqwa Metro, H. A. Sajoeti,  menyerahkan pemeliharaan pada Pemerintah Kota Metro.


Masjid ini digunakan sebagaimana masjid seharusnya, dimana tidak hanya untuk tempat sholat berjamaah, tetapi juga banyak kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Pada hari Idul Fitri atau Idul Adha biasanya juga dipakai untuk lokasi sholat. Suara adzan dan mengaji sesaat sebelum waktu maghrib tiba dari tahun ke tahun tidak pernah berubah. Lekat dalam memori.

Mengingat masa kecil di masjid ini, yang lokasinya tidak seberapa jauh dari rumah, adalah mengasyikkan. Selain tempat mengenal kemegahan “bangunan islami” yang pertama kali, juga tempat yang menyenangkan untuk “bermain” terutama saat bulan Ramadhan.

Saat hari biasa maka sholat Subuh adalah momen yang menarik. Karena setelah sholat biasanya dilanjutkan dengan lari pagi keliling lapangan Merdeka yang bersebelahan dengan masjid. Lapangan ini, saat itu, masih digunakan sebagai tempat olah raga sepak bola, bola voli, dan atletik.

Tugas Jumat juga merupakan hal asik lainnya, dimana guru sekolah memerintahkan untuk membuat ringkasan khotbah berupa tulisan pada buku yang kemudian dimintakan cap “kantor masjid” sebagai buktinya. Bukan hal gampang meringkas isi khotbah yang biasanya kalah menariknya dibandingkan “ngobrol dengan teman” atau “tidur dalam kesejukan” di masjid megah ini.

Megah, ya, bagi saya ini suatu kemegahan yang dibangun pada akhir 60-an. Susah membayangkan bahwa kubah besar yang disangga oleh 20 pilar dan dinding khas busur mediteranian ini dihasilkan saat itu hanya dalam waktu dua tahun. Atau justru saya tidak perlu heran karena memang pada jaman itu penghormatan pada “rumah Tuhan” adalah hal yang bisa mengalahkan penghormatan pada “rumah sendiri”. Sehingga pembangunan dilakukan dengan kesungguhan hati.
Pada Maret 2013, dari Harian daring Tribun Lampung didapat berita bahwa masjid Taqwa mengalami rehabilitasi atau pemugaran.

“Rehabilitasi total Masjid Taqwa Kota Metro hanya menyisakan menara lama. Seluruh bangunan masjid dirubuhkan, dan kubahnya akan diganti dengan baru yang lebih lebar menyesuaikan bangunan baru berlantai dua.” (Harian Tribun Lampung, 6 April 2013)

Terbayang kata rehabilitasi, lha kok “hanya menyisakan menara lama”..?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, merehabilitasi mempunyai arti: memulihkan kepada (keadaan) yang dahulu (semula).

Wah, kalau hanya menyisakan menara, maka keadaan apa yang dikembalikan..? Apakah yang dimaksud kemudian adalah keadaan sebelum masjid ada yang berupa tanah lapang..?

Entahlah, apa maksud sebetulnya dari “rehabilitasi” ini, yang jelas masjid megah itupun, saat tulisan ini saya buat, sudah rata dengan tanah. Icon itu telah tercerabut dari akarnya.

Jelas sekali, pada masa rezim siapa icon ini dihilangkan akan saya catat dalam-dalam dan tak akan terlupakan. Rezim ini tentunya mempunyai kebijaksanaan hebat dalam perencanaan “merehabilitasi total” masjid megah ini.







Masjid Takwa(Agung)Tahun 2011

Masjid Takwa .::I Love You Full::.

Tukang Semir Pekerjaan Mulia

 Sekolah dengan menyemir
Kota Metro,Lampung 


 Kota Metro Lampung
2012











 keping-keping Masjid Takwa
Arsip 2013

Masjid Takwa 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar